Friday, 3 August 2012

Menunggu Mentari

Jika aku disuruh memilih waktu yang paling aku sukai dalam sehari, aku akan memilih jam 9 kurang 15 sampai jam 9 lebih 15 pagi.
30 menit? Ya, 30 menit dimana aku merasa lebih hidup ketika seorang gadis yg selalu kutunggu lewat didepan tempatku.
Hey! Buat kamu yg gak percaya cinta pada pandangan pertama, percayalah itu ada.
Bukan sekadar mitos yg di besar-besarkan oleh sinetron. Really! That’s true.


Mungkin ceritaku tidak sewajar cerita pada umumnya, namun pertemuanku dengannya yg menjadi ritual ini membuatku hidup dan bercahaya.
Aku sebut kegiatan ini dengan.. Menunggu Mentari!
Mentari? Bukan, namanya bukan Mentari. Tapi aku senang saja memanggilnya begitu.
Karena dia terlihat begitu cemerlang dan bersinar seperti mentari di pagi hari.
Entahlah, mungkin aku tidak akan pernah tau siapa namanya. Karena aku tidak pernah mempunyai cukup keberanian untuk berkenalan dengannya.
Walaupun dia tidak pernah tahu kalau aku itu ada. Tapi dia tetap mentariku yg selalu terlihat cemerlang.
Dari jam 9 kurang 15 sampai jam 9 lebih 15. Untuk hari ini, esoknya. Esoknya lagi. Esoknya lagi. Esoknya lagi. . . . .

Friday, 6 July 2012

You Know You're In Love

You know you’re in love when you can’t keep your eyes off of her.
You know you’re in love when you can’t get your eyes off of her.
You know you’re in love when you do everything to find out her name.
You know you’re in love when you really want to have a chat with her even though she doesn’t know you at all.
You know you’re in love when anything about her becomes the most important knowledge to you.
You know you’re in love when you hate that you got no idea about her.
You know you’re falling in love when you really hope she has a twitter account so that you can follow her and know many things about her.
You know you’re in love when you really expect your facebook friend request to be confirmed.
You know you’re in love when you really want her to update her twitter or facebook page.
You know you’re in love when you check her facebook page all the time.
You know you’re in love when you’re seeing her picture on and on and you can’t stop at all.

You know you’re in love when you wait for her online nervously.

You know you’re in love when you don’t want to delete all the comments and messages from her.
You know you’re in love when you see her then your heartbeat’s sound is being louder and louder, but you’re voice becomes quieter and quieter.
You know you’re in love when you can’t talk in front of her at all, but you know you really want to.
You know you’re in love when you want to make her smile all the time, as much as you can.
You know you’re in love when her pheromone becomes your new favorite smell.
You know you’re in love when you hope the rain wouldn’t stop when you and her take shelter.
You know you’re in love when you feel the time is going so fast, even too fast, when you’re with her.
You know you’re in love when ‘goodbye’ becomes the hardest word to be said and ‘hello’ becomes the word that you would really miss.
You know you’re in love when your phone rings and you hope it’s her.
You know you’re in love when the phrase “nobody is perfect” becomes a bullshit because she’s the perfect one.
You know you’re in love when you feel there’s nothing left when you’re with her. You know you’re in love when you realize that your writing contains so many “you know you’re in love”.

Saturday, 9 June 2012

Cuma Satu Ketidakpastian

Cuma Satu Ketidakpastian



“Mencinta, harusnya layaknya dendam. Mesti berbalas.”
Beberapa orang pernah merindu hingga menangis.
Ingin memeluknya hingga sesak napas.
Semua semata karena tak ada balasan darinya. Jangankan balasan, tahu pun dia tidak. Jatuh cinta sendirian membuatmu kuat, memiliki tenaga layaknya monster, hampir tak terbatas.
Namun semuanya habis diserap penasaran, diserap prasangka yang dibangun sendiri, kemudian jumlahnya menjadi minus ketika persepsi baik yang kamu bangun bangun sendiri ternyata salah.
Berhentilah menebak-nebak. Melelahkan. Jika dia tak bisa memberikanmu kepastian. Mintalah. Rebut kepastianmu sendiri. Jangan biarkan hatimu kau dudukkan di kursi yang bahkan kursi itu tak ingin diduduki, atau sudah ada yang menduduki hanya saja sedang pergi sejenak.
Bicara, maka semua penasaran akan sirna.
Karena cuma satu hal yang pasti, yaitu ketidakpastian.

Saturday, 7 April 2012

Aku Mau Pulang

Aku menulis ini sambil mendengarkan Home dari Michael Buble. Tetiba aku merindukan rumah. Bukan rumah lengkap dengan atap dan lantai tempat aku tumbuh, bukan juga yang isinya sebuah ruang berisi furnitur dan barang elektronik tempat aku dan keluarga berdiskusi.
Aku rindu kamu, aku rindu aku, aku rindu kita yang dulu lagi. Aku rindu cinta, yang sejak beberapa waktu lalu, sejak awal kita bertemu menjadi rumah untukku. Ke mana rumah itu sekarang? Atau rumah itu tetap ada tetapi aku yang tak sedang di rumah? Lantas, berada di mana aku saat ini? Kamu di mana?
Banyak yang sudah kita lalui di rumah itu. Tawa, canda, tangis, semua menjadi satu membentuk sebuah bingkai. Aku tak ingin semuanya hanya menjadi bingkai kenangan. Siapa pemilik rumah itu sebenarnya? Aku, atau kamu? Mengapa tak kita miliki bersama saja rumah itu. Kita tinggali bersama.
Atau kamu sudah tidak mau lagi tinggal bersamaku di rumah itu? Aku akui, rumah itu tak sempurna, selalu ada tetesan-tetesan air mata keluar dari atapnya. Tapi juga banyak suara semilir gelak tawa dari jendelanya yang rapuh sesekali melewati sela antara daun telinga. Namun aku tak ingin meninggalkannya, aku tak akan meninggalkannya tanpa kamu. Aku tak ingin rumah yang baru. Yang aku ingin hanya rumah ini, bersama kamu.
Kamu, kembalilah ke rumah. Tak inginkah kamu pulang? Aku mau pulang.

Kamu, Jangan Pergi


Jika kamu pergi, senyum ini untuk siapa lagi? Lalu ke mana larinya lengkung bibir itu? Hanya menyelinap ke dalam pori-pori mimpi?
Jika kamu pergi, ke mana lagi aku layangkan alunan rindu ini? Ke telinga Cupid yang sudah lumpuh menembakkan panah cintanya kepadamu? Ke jari-jari kedinginan yang tak pernah kamu genggam lagi?
Jika kamu pergi, apa lagi yang bisa aku tulis tentang sayang ini? Tentang ketiadaan kamu? Tentang pundak kosong tak berpenghuni yang merindukan sandaran kamu?
Jika kamu pergi, akan aku lipat menjadi apa kertas yang biasa aku buat menjadi burung atau kupu-kupu kesukaanmu? Atau hanya harus kuubah menjadi mawar yang kelopaknya gugur perlahan? Atau harus kubentuk menjadi sebuah nisan yang di atasnya tertulis kenangan kita?
Jika kamu pergi, siapa lagi yang aku tunggu menjadi penyemangat di saat-saat tersulitku? Aku harus menunggu suara burung hantu di tengah malam, seakan mengejek atas segala kekalahanku? Atau cukup ditemani keheningan malam, mendinginkan hati?
Jika kamu tak kembali, apalagi yang pantas aku tunggu mengorbankan sisa waktu hidupku? Menunggu hingga usia menggerogoti jasad ini? Bahkan dengan bantuan rindu, jiwaku tak akan tersisa.
Kamu, jangan pergi.

Wednesday, 4 January 2012

Balasan untuk jatuh cinta diam-diam

Diam, katanya emas. Jika memang begitu, harusnya orang yang jatuh cinta diam-diam praktis menjadi orang terkaya di dunia. Aku tahu! Mengapa jatuh cinta diam-diam tak kunjung membuat pelakunya kaya? Karena ‘emas’ yang di dapat karena diamnya habis digerogoti rasa penasaran dan kelelahan menebak-nebak.
Sesungguhnya benak orang yang jatuh cinta diam-diam adalah benak yang paling cerewet. Dalam pikirannya, orang yang jatuh cinta diam-diam akan terus berceloteh, bertanya, dan lagi, menebak. Mungkin terlihat tak ada lelahnya. Tetapi sebenarnya tak ada yang pernah menginginkan itu, hanya saja tak ada yang kuasa ketika itu menimpa dirinya.